Peristiwa Pembohongan Ir. Soekarno Terhadap Umat Islam Indonesia

Tanggal 17 Agustus hari gembira bagi para bangsa Indonesia yang memeperingati  Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun sehari setelah proklamasi 18 agustus 1994 adalaha hari kelam bagi Umat islam Indonesia.  Pada hari itu kesepakatan anatara umat islam dengan umat nasionalisme dan Non Muslim dikhianati.
Tujuh kata yang menjamin penegak syariat islam  di Indonesia dihapus. “..Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk – pemeluknya..” berganti menjadi ketuhanan yang maha Esa dengan pengahpusan ini, pembukaan konstitusi yang tadinya disebut sebagai Piagam Jakarta pun berubah drastis Sebelumnya, para wakil kelompok islam yang menjadi anggota Dokuritsu Zyumbi Tyioosaki atau Badan Penyelidik Upaya Persiapan  Kemerdekaan Indonesia berusaha keras menjadikan agama Islam sebagai dasar Negara agama Islam sebagai dasar Negara Indonesia Merdeka. Perdebatan alot terjadi sehingga terlahirlah kompromi berupa Piagam Jakarta. Islam tidak menjadi dasar Negara , namun kewajiban bagi para pemeluknya diataur dalam kontitusi.

BPUPKI kemudiaan menetapkan Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Naskah tersebut di tetapkan sebagai Mukaddimah UUD yang sedang disusun.  Pada tanggal 7 Agustus BPUPKI berubah menjadi PPKI yang di ketuai oleh Soekarno. Piagam Jakarta bertahan sebagai Mukaddimah  UUD hingga 17 Agustus 1945, namun selang sehari kemudian dipersoalkan oleh para kelompok Kristen padahal A.A Maramis  yang menjadi wakil Kristen di PPKI sudah setuju dengan piagam tersebutRekayasa Politik.
Kronologi penghapusan Piagam Jakarta cukup misterius. Pada tanggal 18 Agustus Moh. Hatta mengakui ditemui oleh seorang perwira angkatan laut jepang. Opsir itu menyampaikan pesan berisi “ancaman” dari tokoh Kristen di Indonesia timur. Jika tujuh kata dalam Sila pertama pembukaan (Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya) tidak di hapus, mereka akan memisahkan diri dari Indonesia meredeka.
Hatta dan Seokearno, yang memang termasuk dari kelompok sekuler, kemudian membujuk anggota PPKI dari kelompok Muslim untuk menyetujui penghapusan tujuh kata itu. Diantara mereka hanya ki Bagus Hadi Kusumo yang bersih keras tak mau. Menurut ki bagus, itu berarti mencederai gentlemen Egreement (Kesepakatan diantara para pria terhormat) yang sudah mereka sepakati bersama. Soekarno dan Hatta kemudian menyuruh Tengku Moh. Hassan (anggota PPKI dari Aceh) dan Kasman Singodimedjo (Anggota Muhhamadiyah seperti Ki Bagus) membujuk Ki Bagus. Kasmalah yang berhasil meyakinkan, terutama dengan janji syariat Islam akan masuk kembali dalam dalam konstitusi daerah setelah MPR terbentuk enam bulan kemudian.
Kelak Kasman sangat menyesali peran dalam penghapusan tujuh kata tersebut. Ternyata hal tersebut berujung pada nasib tragis umat Islam di Indonesia yang mayoritas tetapi tidak boleh menjalankan syariat di dalam negeri sendiri.  Konon ia selalu menangis jika teringat perannya membujuk Ki Bagus.
Misteri Opsir Jepang.
Pertanyaan pertama dan kedua agak sulit dijawab.Sampai wafatnya,Hatta tak pernah  membuka mulut siapa pemberi dan penyampai pesan.ia memngaku lupa siapa nama opsir jepang tersebut.ada beberapa spekulasi yang menyebut bahwa pemberi pesan itu adalah dr.Sam ratulangi,tokoh krsten dari Sulawesi utara.kini namanya di abadikaan sebagai nama universitasdi manado.
Aratawijaya,dalam tulisanya yang berjudul peristiwa 18 Agustus 1945: “Penghianatan Kelompok Sekuler Menghapus Piagam Jakarta”, menguraikan beberapa teori yang mungkin bisa menjawab pertanyaan diatas. Pertama  soal Opsir jepang Artawijaya mengambil teori Saidi, seperti yang dikutip yang dikutip dari Dr. Sujono Martoesewojo dkk, dalam bukunya “Mahasiswa ’45 Prapatan 10”. Menurut Ridwan, anggapan bahwa ada opsir jepang yang dating ke rumah Hatta  pada petang hari tanggal 18 Agustus 1945 kemungkinan karena kesalahpahaman saja. Iman slamet mahasiswa kedokteran yang menemani Piet Mamahit menemui Hatta memang berpostur tinggi , rambut pendek, mata sipit, dan suka berpakaina putih – putih . Iman Slamet “inilah yang kemungkinan di kira Opsir Jepang oleh Hatta.
Lalu untuk apa para mahasiswa iti mendatangi Moh. Hatta? Menurut penelitian artawijaya,pada saat proklamasi 17 agustus 1945 dibacakan di jalan pegangsaan 65,Jakarta,taka da satu pun tokoh Kristen yang hadir dalam peristiwa bersejarah itu.seharusnya,dalam suasana kemerdekaan dan untuk menunjukkan rasa persatuan,mereka hadir dlam acara tersebut.
Kenapa tokoh Kristen tak menghadiri acara penting dan sangat bersejarah itu?
Menurut Artawijaya,para aktivis Kristen tengah sibuk kasak kusuk melakukan konsolidasi dan lobi lobi politik untuk meminta penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta.kesimpulan ini didasarkan pada peryataan soekarno yang mengatakan bahwa malam hari usai proklamasi kemerdekaan ri,ia mendapat telepon dari sekelompok mahasiswa prapatan 10,yang mengatakan bahwa siang hari pukul 12.00 wib (tanggal 17 agustus),tiga orang anggota ppki asal Indonesia timur,Dr Sam Ratulangi,latuharhary,dan I gusti ketut pugja mengatangi asmara mereka dengan ditemani dua orang aktivis.keada mahasiswa,mereka keberatan dengan isi piagam Jakarta.kalimat dalam piagam Jakarta,bagi mereka sangat menusuk perasaan golongan Kristen.
Pada saat itu Latuharhaary sengaja mengajak  Dr. Sam Ratulangi, I Gusti ketut Pudja, dan dua aktifis asal Kalimantan timur, agar seolah – olah suara mereka mewakili masyarakat Indonesia wilayah timur. Mereka juga sengaja melempar isu ini ke Kelompok mahasiswa yang memang mempunyai kekuatan menekan, dan mengharap isu ini juga menjadi tanggung jawab mahasiswa.
Kelompok mahasiswa lalu menghubungi Hatta, yang kemudian menhundang para mahasiswa untuk datang menemuinnya pukul  17.00 WIB, hadir dalam pertemuan itu aktifis Prapatan 10, Piet Mamahit dan Imam Slamet. Setelah berdialog Hatta kemudian menyetujui usul perubahan tujuh tujuh kata dalam piagam Jakarta. Setelah dari Hatta malam itu juga para mahasiswa menelpon Soekarno untuk menyatakan keberatan dari tokoh Kristen Indonesia timur.
Tokoh dimaksud adalah Dr. Sam ratulangi yang sebelumnya mendatangi kelompok mahasiswa Prapatan pada pukul 12.00 WIB, tanggal 17 agustus 1945. Ratulangi meminta mereka untuk terlibat dalam penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta. Kemudian mahasiswa itu menghubungi Hatta, dan Hatta mengatur pertemuan pada sore harinya. Berdasarkan fakta tadi maka keterangan Hatta soal adanya pertemuan dengan Opsir Jepang, yang ia lupa namanya, diragukan. Karena itu dalam sebuah diskusi tentang piagam Jakarata, Ridwan Saidi mengatakan, “Dengan segala hormat saya pada Bunga Hatta, dia Seorang yang bersahaja, tapi dalam kasus piagam Jakarta saya harus mengatakan bahwa ia berdusta.” Penelitian Ridwan Saidi dikuatkan dengan sebuah buku yang diterbitkan di Cornell University AS,yang mengatakan bahwa dalang di balik sosok misterius opsir Jepang Dr. Sam Ratulangi,yang di sebut dalam buku itu sebagai an astune Christian politician from Manado, north Sulawesi (Seorang politisi Kristen yang licik dari Manado Sulawesi Utara).
Jadi menurut teori Ridwan Saidi, Hatta menyembunyikan fakta bahwa yang ia temui bukanlah seorang opsir Jepang. Bisa jadi yang ia temui dan di sangka Opsir Jepang adalah mahasiswa Iman Slamet yang fiksi dan pakaiannya mirip orang jepang. Sementara tokoh Indonesia timur yang membawa pesan itu adalah Dr. Sam Ratulangi.
Kaum IslamPhobia.
Pendek cerita, tujuh kata itu dihapus. Namun tak hanya itu, beberapa perubahan terkait peran Islam dalam kontitusi juga dihapus (Lihat Boks: Yang berubah tak hanya tujuh kata) terkait pertanyaan ketiga, benarkah Indonesia Timur yang mayoritas Kristen yak melepaskan diri setelah penghapusan piagam Jakarta? Sejarah kemudian membuktikan, kawasan yang menjadi modal klaim kelompok Kristen itu ternyata tetap berusaha melepaskan diri dari naungan NKRI. Pemberontakkan RMS di Maluku dan Permesta di Sulawesi Utara membuktikan, tanpa tujuh kata tentang Syariat Islampun, kelompok Kristen memang tak betah bernaung di bawah merah putih. Kelak kebencian itu menggelora lagi di kawasan yang sama. Sekian abad dimanja Belanda sebagai warga kelas satu membuat kelompok Kristen tak sudi di pimpin oleh muslim. Peristiwa Ambon dan Poso yang dilator belakangi  rebutan posisi politik local membuktikan sinyalemen tersebut. Yang terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945 betul – betul tragedi hitam bagi umat islam yang berbuntut panjang di massa depan.
Repost : Ilham Official Website, Source Majalah An-Najah Edisi 72 .


12 Comments Add Yours ↓

The upper is the most recent comment

  1. Miris juga dengerinnya :(

    [Reply]

    ilham abi manyu Reply:

    Itu diambil dari sumber yan terpercaya..
    aku juga miris membacanya, maka dari itu saya share…!

    [Reply]

  2. wong bodho #

    Assalamu’alaikum..
    Kalau pun benar adanya sudah terlanjur, dan lebih baik menyikapi dengan bijak. Tapi kalau tidak benar, hati-hati menuliskan/ menyebarkan hal-hal seperti ini..

    Biarlah Indonesia maju dengan ke-Indonesia-annya. Islam rahmatan lil alamin tanpa perlu dituliskan pun kita hanya perlu menunjukkan Indonesia merdeka atas rahmat Allah SWTA.

    Nganjuk maju dengan ke-Nganjuk-annya.

    Semoga Alloh SWTA mengampuni kita.
    Wa’alaikumsalam..

    [Reply]

    ilham abi manyu Reply:

    Itu diambil dari sumber yang terpercaya…
    ini masih ada dan saya bawa mas, aku juga ikut prihatin atas semua itu mas, kita harus bijaksana sikap kita..>!

    [Reply]

  3. rongkus yanto #

    cintailah Indonesia dengan keberagamannya, damai dalam perbedaan adalah sesuatu yang sangat indah….
    Agama itu sepenuhnya milik Yang Maha Kuasa, tiada seorang pun yang berhak mengomentari, membela apalagi memperjuangkannya sebab dia BUKAN milik anda..
    mari kita kerjakan selamat kita sendiri-sendiri sesuai dengan keyakinan masing-masing, tak perlu anda mempersoalkannya apa lagi dlm upaya mengadu domba..
    DIA hanya menginginkan anda memuji dan menyembahNYA, bukan berlagak MEMBELA-NYA….

    [Reply]

    gusDur Reply:

    Akuuuur Rongkus Yanto nih artikel kok jdinya mengarah sara? piagam jakarta kan sudah final to, kok gk dipertebal rasa optimis nasionalismenya, kita bukan negara agama. Selektif lagi ah artikelny…malu diliat daerah laen.

    [Reply]

    Jahrot Reply:

    Setuju Gus…
    Adminnya dimana nih!! Posting meresahkan nih!!!

    Kurang bersyukur nih kita.. klo mempermasalahkan hal-hal seperti ini…

    Niat bung Karno dulu tentu dengan banyak pertimbangan… jangan berprasangka buruk dulu lah!! dosa lho!!

    [Reply]

  4. kang Prapto #

    Ya semua tergantung gmn menyikapi keadaan yg sekarang kita hadapi ini,kalaupun memang bgt ya gmn lg.Hidup memang tanya jawab aja Buat kita semua.

    [Reply]

  5. yap walaupun piagam jakarta dilangkahi oleh PPKI, termasuk jg dicoretnya kata-kata tersebut, saya optimis di negeri ini, syariah islam akan segera tegak kembali dan bahkan dalam bingkai negara khilafah islam…

    [Reply]

  6. Kepada Yth,
    Seluruh RAKYAT NGANJUK,
    Baik yang ada di wilayah Nganjuk maupun yang ada di luar wilayah Nganjuk

    SELAMAT BERJUANG UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT

    Assalamu’allaikum warohmatullohi wabarokatuh,

    Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kami selalu menghormati dan menghargai segala bentuk perbedaan dan aspirasi, namun dalam menghadapi PILKADA Nganjuk tahun 2012 kami telah menentukan sikap yang tegas bahwa :

    Dengan memohon ridho Allah SWT / Tuhan Yang Maha Kuasa, Insya’Allah kami RELAWAN (NETRAL) bersama rakyat, memberangkatkan / mengusung serta mendukung dan memilih bakal Calon Bupati / Wakil Bupati Nganjuk periode tahun 2013 hingga tahun 2018, ASLI WONG NGANJUK Insya’Allah beliau adalah sbb :

    Nama, H. NJONO DJOJO ASTRO (Asli Wong Nganjuk)
    Direktur Utama PT. Joyo Technical Priutama
    Alamat rumah, Jalan Barito I No. 02 Nganjuk

    Akan dicalonkan sebagai, BUPATI Nganjuk periode 2013 – 2018

    Nama, KH. A. SYAIFUL ANAM (Asli Wong Nganjuk)
    Kepala Desa Sidoharjo, Kec. Tanjunganom – Nganjuk
    Alamat rumah, Desa Sidoharjo, Kec. Tanjunganom – Nganjuk

    Akan dicalonkan sebagai, WAKIL BUPATI Nganjuk periode 2013 – 2018

    Perlu diketahui bahwa, bakal calon tsb benar-benar ASLI PUTRA DAERAH NGANJUK lahir di Nganjuk, besar di Nganjuk, hidup di Nganjuk & menyatakan siap mengabdi sepenuhnya untuk RAKYAT NGANJUK yang di cintai dengan Ikhlas lillaahita’aalla, sebagai jawaban beliau berdua setelah memperhatikan dan merespon berbagai kondisi yang ada di tengah kegelisahan sebagian besar RAKYAT NGANJUK.

    Marilah kita buktikan bersama bahwa, kita (Rakyat Nganjuk) khususnya generasi muda & tokoh masyarakat yang masih memiliki harga diri tanpa pamrih, Insya’Allah bersama rakyat mampu menentukan sendiri MASA DEPAN RAKYAT NGANJUK bersama bakal calon PEMIMPIN ASLI PUTRA DAERAH membangun Pemerintahan yang bersih, jujur dan adil.

    Jangan terlambat, ayo seluruh rakyat Nganjuk khususnya para generasi muda dan para tokoh masyarakat, sa’atnya segera bergabung bersama kami RELAWAN NETRAL, Insya’Allah tanpa pamrih : memberangkatkan / mengusung, mendukung dan memilih bakal Calon BUPATI / WAKIL BUPATI dari rakyat yang NETRAL, diberangkatkan langsung oleh rakyat :

    H. NJONO DJOJO ASTRO – KH. A. SYAIFUL ANAM
    ( NETRAL )

    beliau adalah figur pemersatu yang didambakan rakyat dan Insya’Allah peduli RAKYAT NGANJUK.

    Sehubungan hal tersebut, kami mohon do’a restu seluruh RAKYAT NGANJUK untuk melakukan gerakan bersama (woro-woro) bertekad untuk menyatukan kekuatan rakyat : BANGKIT & BERSATU MENJADI SATU KEKUATAN YANG SUPER DAHSYAT, mengusung, mendukung dan memilih bakal Calon Bupati/Wakil Bupati Nganjuk 2013 – 2018 yang NETRAL :

    H. NJONO DJOJO ASTRO – KH. A. SYAIFUL ANAM
    (NETRAL ).

    Kepada pihak-pihak yang kurang berkenan, kami menyampaikan permohonan maaf.
    Atas perhatian, dukungan, pilihan dan do’a restu SELURUH RAKYAT NGANJUK, jauh sebelumnya kami haturkan banyak terima kasih, dengan harapan :
    Semoga Allah SWT / Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu memberikan bimbingan, petunjuk dan perlindungan kepada kita semua khususnya kepada bakal calon Pemimpin kita, Insya’Allah dengan kekuatan rakyat yang super dahsyat NETRAL bisa menang, amin.

    Wassalamu’allaikum warohmatullohi wabarokatuh

    NB:

    Menerima sesuatu dari siapapun adalah sah, tetapi ada yang harus di ingat :
    Supaya tidak menyesal mohon tidak mengorbankan masa depan rakyat Nganjuk khususnya anak / para generasi muda kita.

    [Reply]

  7. tidak perlu #

    Tulisan ini yang sebenarnya memperkeruh suasana.. Pada masa Indonesia merdeka, yang dominan di republik ini aliran kepercayaan dan keyakinan.. karena hampir tidak ada kaum intelektual dari aliran kepercayaan dan keyakinan tersebut, maka yang terlihat di catat sejarah kaum intelektual muslim dan kristiani…

    Kami sepakat Indonesia dipecah belah saja sesuai dengan syariat-syariat masing-masing daerah saja…

    [Reply]

  8. netral #

    quick count perolehan dukungan valid dalam pencalonan melalui jalur independen dari pasangan netral sementara
    131 desa dari 150 desa sebanyak 69.236 . relawan netral

    [Reply]



Your Comment

*